Oleh Moch. Fahri Ridho Pratama
Kenaikan harga BBM non-subsidi bukan hanya soal ekonomi makro. Bagi jutaan keluarga kecil, ini soal pilihan antara isi tangki atau isi perut.
Rabu pagi, 10 Juni 2026. Antrean motor mengular panjang di SPBU-SPBU Jakarta Barat. Bukan karena stok habis, melainkan karena harga Pertamax baru saja melonjak Rp3.950 per liter, dan warga memilih beralih ke Pertalite yang masih disubsidi pemerintah.
PT Pertamina Patra Niaga resmi menetapkan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter, naik signifikan dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter. Kenaikan ini mengikuti formula harga yang ditetapkan pemerintah, mempertimbangkan fluktuasi harga minyak mentah dunia, terutama sejak ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas sejak awal tahun ini.
Sementara Pertamax naik, harga BBM bersubsidi
Pertalite dan Biosolar resmi tidak berubah. Pertalite tetap di angka
Rp10.000/liter, Biosolar Rp6.800/liter. Tapi selisih harga yang kini lebih dari
Rp6.000 per liter antara keduanya menciptakan tekanan tersendiri: subsidi
memang melindungi, namun ia juga menandai betapa rentannya keuangan sebagian
besar masyarakat kita terhadap perubahan harga energi.
Dari Sudut Pandang Keuangan
Sosial Islam
Keuangan sosial Islam bukan sekadar zakat dan infak.
Ia adalah ekosistem instrumen distribusi kekayaan, mulai dari zakat, infak,
sedekah (ZIS), hingga wakaf produktif dan dana sosial berbasis masjid yang
secara prinsip dirancang untuk menjaga kemaslahatan umat, terutama ketika
mekanisme pasar gagal menjangkau yang paling rentan.
Kenaikan harga energi seperti ini adalah momen yang
tepat untuk melihat relevansi instrumen-instrumen tersebut secara konkret.
Maqashid Syariah & Energi: Salah satu tujuan
utama syariah adalah hifz al-mal, menjaga dan memelihara harta rakyat. Subsidi
BBM bagi golongan bawah bisa dibaca sebagai implementasi nilai ini di tingkat
kebijakan negara.
1.
Zakat
& Dana Sosial Masjid
Saat
harga kebutuhan naik, lembaga amil zakat dan kas sosial masjid bisa mempercepat
penyaluran bantuan langsung kepada mustahiq yang terdampak kenaikan biaya
transportasi.
2.
Wakaf
Produktif
Wakaf
tidak lagi hanya soal tanah atau bangunan. Wakaf produktif bisa diarahkan ke
pengembangan transportasi komunal atau energi alternatif berbasis komunitas.
3.
Koperasi
Syariah
Koperasi
berbasis syariah dapat menawarkan skema pembelian BBM kolektif atau subsidi
silang antar anggota, mengurangi beban individu yang paling terdampak.
4.
Infak
& Sedekah Terprogram
Gerakan sedekah
produktif yang terkoordinasi melalui fintech syariah bisa menjadi jembatan
cepat antara donatur dan penerima manfaat di tengah gejolak harga.
Subsidi sebagai Cermin Keadilan
Distribusi
Ada yang menarik dari cara pemerintah mengelola
kenaikan ini, BBM bersubsidi dipertahankan, sementara yang non-subsidi
mengikuti harga pasar. Dalam kerangka ekonomi Islam, kebijakan ini sejalan
dengan prinsip bahwa negara punya kewajiban memastikan kebutuhan dasar rakyat
tidak bergantung semata pada mekanisme pasar bebas (hisbah).
Namun pertanyaannya tidak berhenti di sana. Subsidi
yang tidak tepat sasaran atau yang dikonsumsi justru oleh mereka yang mampu
adalah celah distribusi yang bertentangan dengan spirit keadilan Islam. Di
sinilah keuangan sosial Islam bisa mengisi peran pelengkap, menjangkau yang
benar-benar membutuhkan, melalui mekanisme yang lebih terverifikasi dan
berbasis komunitas.
Momentum, Bukan Sekadar Respons
Kenaikan harga energi seharusnya tidak hanya dibaca
sebagai krisis, tapi sebagai momentum. Momentum untuk memperkuat ekosistem
keuangan sosial Islam yang selama ini masih berjalan terpencar-pencar, zakat
yang belum optimal terkelola, wakaf yang belum produktif, dan koperasi syariah
yang belum terhubung dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Jika lembaga-lembaga ini bergerak lebih
terkoordinasi merespons perubahan harga dengan program bantuan yang cepat dan
tepat sasaran, maka keuangan sosial Islam tidak hanya jadi pelengkap sistem,
tapi jadi tulang punggung ketahanan ekonomi umat yang sesungguhnya.
“Keuangan sosial Islam paling
relevan justru ketika pasar paling tidak adil.”
Kenaikan Pertamax hari ini bukan hanya soal harga
BBM. Ia adalah pengingat bahwa sistem distribusi kesejahteraan berbasis nilai, zakat,
wakaf, sedekah, masih sangat dibutuhkan dan belum bekerja di kapasitas
maksimalnya.
Kata Kunci: Keuangan Sosial Islam, BBM Subsidi,
Pertamax 2026, Zakat & Wakaf, Maqashid Syariah, Ekonomi Islam